Obrolan Sevel

Kebangkitan Konsumtivisme Nasional

(Tulisan ini merupakan laporan dari Kopdar Budaya di Foood Kulture —sekarang Urban Kitchen— di Plaza Indonesia, Jumat, 20 April 2011; diunggah pertama kali di kopdarbudaya.blogdetik.com. Diunggah kembali di sini untuk menyambut Hari Kebangkitan Nasional)

Sadarkah kita bahwa kebijakan tiket penerbangan murah bisa memicu revolusi perilaku konsumsi sebuah bangsa? Apa, konsumsi? Pergi ke midnite sale, menyerbu Brightspot Market, dan wisata kuliner hanyalah sebagian sangat kecil dari fenomena “baru” budaya konsumsi di Indonesia. Tambahkan satu lagi: ke kantor naik sepeda!

Dibilang “baru”, karena hal-hal yang disebutkan tadi memang baru terjadi tahun-tahun belakangan ini. Tapi, budaya konsumen sendiri di Indonesia tentu bukan hal baru. Masih ingat “siaran sarana niaga” di TVRI zaman dulu? Itulah salah satu tonggak awal munculnya budaya konsumen di Tanah Air. Tonggak berikutnya adalah tumbuhnya pasar-pasar modern dengan aneka sebutannya, dari plaza, mall, ITC yang dilengkapi dengan foodcourt.

Perhatian budaya terhadap aktivitas konsumsi modern muncul dari penggalian kembali teori Marxisme klasik yang menyebutkan bahwa hasil produksi tidak secara langsung terkait dengan kebutuhan masyarakat. Barang-barang produksi adalah komoditas yang lebih mementingkan nilai tukar ketimbang nilai guna. Iklan jadul “ingat beras, ingat Cosmos” misalnya, memberi gambaran yang cukup jelas mengenai hal itu. Masyarakat terutama di desa-desa yang sebelumnya menyimpan beras di gentong atau peti kayu, mendadak merasa membutuhkan sesuatu yang baru, yang “pastinya” lebih baik, untuk menyimpan beras.

Iklan, yang kemudian dilarang tayang di TVRI tapi muncul kembali dalam bentuknya yang lebih canggih di era televisi swasta, hanyalah salah satu pemicu budaya konsumsi. Berikutnya, kita menyaksikan adanya “ledakan” pemicu itu: dari majalah lifestye asing yang diwaralabakan ke dalam bahasa Indonesia, menjamurnya majalah gratisan, dan jor-joran kartu kredit. Munculnya spesialisasi produk juga membuat orang mengkonsumsi lebih. Dulu kaum pria sudah cukup pakai rexona. Sekarang, sudah ada rexona for men.

Itu bentuk-bentuk “fisik”. Masih ada pemicu lain yang lebih “halus”. Jargon gaya hidup sehat misalnya, membuat orang berbondong-bondong menjadi anggota pusat kebugaran, membeli susu rendah lemak, ikut program diet dan menggerakkan ‘bike to work’ dengan sepeda yang harganya sangat mahal. Booming acara petualangan wisata dan liputan kuliner di televisi, ditambah kebijakan cuti bersama sejak era pemerintahan Megawati, juga punya sumbangan besar merevolusi perilaku konsumsi masyarakat.

Perlu dicermati secara khusus, ada yang menarik dalam kasus di Indonesia dimana bangkitnya nasionalisme banal dan gerakan “cintailah ploduk-ploduk endonesa” telah melahirkan budaya konsumsi yang unik. Batik ada di mana-mana, menjadi busana “resmi” kerja setiap hari Jumat, sehingga “belanja batik” kini menjadi agenda rutin. Pasar ini kemudian ditangkap oleh para produsen untuk lebih menggenjot pemasaran produk-produk “nasionalisme” mereka ke dalam strategi-strategi khusus, misalnya pameran industri kreatif, atau memberi label pada mall tertentu sebagai “pusat batik nasional” atau “pusat batik dan handycraft”.

Konsumsi memang selalu berkaitan dengan strategi. Munculnya barang KW adalah bagian dari strategi itu, termasuk antitesisnya: distro dan pasar-pasar khusus secara berkala seperti Brightspot Market (Jakarta) dan Trademark (Bandung) yang lahir dari spirit “daripada memakai brand internasional tapi palsu, lebih baik pakai barang asli tapi buatan negeri sendiri”. Lagi-lagi, unsur nasionalisme menjadi bagian penting di dalamnya.

Belakangan, strategi-strategi itu semakin sulit ditolak, ketika produsen kartu kredit mulai menjalin “kemitraan strategis” dengan resto dan kafe. Dengan kartu kredit Anu, kita bisa makan di restauran Sana dengan diskon Sekian Persen.

Dari kartu kredit hingga tiket pesawat murah, kesimpulan apa yang bisa ditarik? Ketika kartu kredit ditawarkan di lobi-lobi mall dengan “tanpa syarat kecuali KTP”, dan orang bisa pergi berlibur ke Bangkok dengan tiket sekali jalan hanya Rp 100 ribu, apa yang terjadi? Kini, setiap orang ketika tiba di suatu kota entah untuk tujuan apapun, yang dicari pertama kali adalah, “di mana tempat makan enak di kota ini?” Apa makna semua itu?

Era “ingat beras ingat Cosmos” telah lewat, dan generasi baru konsumen Indonesia pasca-kolonial telah lahir. Mereka adalah generasi yang menemukan dirinya kembali dalam kebanggaannya mengenakan baju batik, nongkrong di Social House, nge-gym di kelas platinum dan rajin menyambangi midnite sale. Mereka adalah kaum yang disebut oleh sosiolog Thorstein Veblen sebagai “membeli status baru” melalui “konsumsi yang menyolok mata”.

Sampai di situ, diskusi yang berlangsung di acara Kopdar Budaya Volume 4 dengan tema “Kebangkitan Konsumtivisme Nasional” di Foood Kulture, Plaza Indonesia, Jumat (20/5/2011) lalu itu kemudian melahirkan pertanyaan-pertanyaan. Bagaimana dengan fenomena tren teater musikal yang selalu sold out dengan harga tiket yang mahal, dan menimbulkan semacam histeria di kalangan kelas menengah Jakarta? Bagaimana pula “teori konsumsi” melihat minimarket-sekaligus-tempat-nongkrong macam 7-Eleven yang kini telah mengepung kota?

Dari mana munculnya orang-orang yang berbondong-bondong nonton musikal itu? Apakah mereka orang-orang yang sama dengan penonton Teater Koma dan pertunjukan-pertunjukan “konvensional” lain yang telah ada sebelumnya? Kalau bukan, ada di mana mereka selama ini? Dan, orang-orang yang setiap malam memenuhi bangku-bangku di bawah payung 7-Eleven itu, dari mana pula datangnya? Di mana mereka nongkrong sebelum 7-Eleven ada? Apakah mereka anak-anak nongkrong baru?

Tren musikal dan 7-Eleven adalah dua aspek paling mutakhir dalam budaya konsumsi di Indonesia, yang telah membangkitkan pola-pola perilaku konsumsi yang belum muncul sampai dua tahun yang lalu. Dan, ini bisa jadi bahan diskusi tersendiri.

‘Finding Srimulat’: Napak Tilas Sebuah Daya Hidup

‘Finding Srimulat’ dibuka sebagai sebuah film motivasi. ‘Namaku Adi, dan aku punya mimpi,” demikian narasi tokoh utamanya, yang diperankan oleh Reza Rahadian. Tapi, tidak. Film ini bukan sebuah kisah sukses, drama zero to hero. Ini adalah dokumentasi atas sebuah ziarah, perjalanan ‘pulang’ untuk napak tilas, menjenguk kembali etos, spirit, daya hidup, atau dalam bahasa modern sekarang “sikap sukses”, yang bernama Srimulat.

Menggunakan pendekatan Srimulat sebagai sebuah seni lawak panggung, ‘Finding Srimulat’ dikemas dalam cerita yang sederhana, sesekali “sok serius”, dan berakhir dengan “kekacauan”. Sutradara Charles Ghazali, yang sepertinya merupakan penggemar fanatik Srimulat, tahu benar bagaimana mesti menampilkan grup lawak tradisional ini di layar lebar.

Tugas Charles jelas tak mudah. Di satu sisi tentu saja ia harus bisa mengambil hati penggemar lama. Di sisi lain ia juga harus memikirkan, bagaimana menarik perhatian anak-anak muda masa kini yang tak pernah mengalami zaman Srimulat manggung rutin di TVRI, maupun era Indosiar. Apakah Charles berhasil? Jawabannya relatif. Yang jelas, ‘Finding Srimulat’ mampu tampil tak sekedar sebagai klangenan, nostalgia ataupun obat kangen belaka.

Film ini berhasil menangkap ‘roh’ Srimulat sebagai tak sekedar grup lawak, melainkan, seperti telah disinggung di awal, daya hidup sebuah bentuk kesenian tradisional yang sudah nyaris tak punya tempat di era “opera Jawa” ala televisi.

Adi, yang diperankan Reza Rahadian tadi, sejak awal diperkenalkan kepada penonton sebagai penggemar Srimulat. Waktu kecil ia sering diajak ayahnya untuk menonton pertunjukan Srimulat di panggung. Kini, Adi dewasa adalah profesional di bidang event organizer. Malang baginya, di saat istrinya (Rianty Cartwright) hamil dan butuh persiapan dana untuk melahirkan, kantor tempatnya bekerja kolaps, karna ide-idenya dicuri kompetitor (diperankan dengan sangat bagus oleh Fauzi Baadila).

Tak mau membuat istrinya kepikiran, Adi memendam kegelisahannya sendiri setelah kehilangan pekerjaan. Saat mengemudikan mobilnya tak tentu arah, ia menemukan warung soto milik eks pemain Srimulat, Kadir. Setelah mampir dan berbincang, muncullah ide untuk mempertemukan kembali anggota-anggota Srimulat dalam sebuah pementasan reuni. Setelah berhasil meyakinkan Kadir, berdua mereka segera menyambangi Tessy.

Tessy yang kini sibuk dengan usaha bengkelnya pun berhasil dibujuk. Singkat cerita, setelah berhasil juga mengajak Mamik dan Gogon, mereka segera meluncur ke Solo untuk sowan ke Ibu Djujuk istri (alm) Pak Teguh pendiri Srimulat. Dalam pembicaraan awal, sejumlah kendala langsung terpetakan, salah satunya masalah dana. Apa solusi Bu Djujuk? Mengajak mereka untuk menenangkan pikiran, sambil sowan ke makam Pak Teguh, nyari inspirasi.

Di makam itulah sekilas Djujuk teringat kembali perjalanan Srimulat sejak awal berdirinya. Lalu, ia berkata, “Kita ini pernah susah, makan kayak kere. Tapi, juga pernah makan kayak raja-raja. Lha kok sekarang mau pentas aja bingung soal dana, itu apa?” Kata-kata Djujuk membesarkan hati Adi dan personel Srimulat lainnya, hingga membulatkan tekad mereka untuk meneruskan rencana bikin pentas reuni.

Tapi, kendala tentu tak hanya sampai di situ. Lewat kendala-kendala itu, dan bagaimana Djujuk, Mamik, Tessy dan Gogon menyikapinya, film ini mengingatkan kita, apa dan siapa sebenarnya Srimulat itu. Penonton dibikin tertawa dengan lawakan-lawakan “klise” mereka, sekaligus dibuat menangis terharu oleh cara mereka memandang keberadaan Srimulat sebagai grup lawak tradisional yang pernah jaya.

Adegan demi adegan merupakan momen-momen yang manis, dengan suguhan akting yang luar biasa. Akting ciamik Mamik pernah kita lihat dalam ‘King’. Tapi, pernahkah melihat Gogon dan Tessy dalam peran yang ‘serius’? Obrolan Djujuk dan Reza Rahadian pada suatu malam sungguh natural, keduanya seolah-olah tidak sedang berakting. Adegan flashmob dengan iringan lagu ‘Lenggang Puspita’ di Stasiun Balapan Solo menjadi semacam kejutan kecil tersendiri yang terasa mewah.

‘Finding Srimulat’ telah melakukan tugasnya dengan baik: melacak kembali jejak sejarah Srimulat, tanpa membebani cerita kekinian yang membingkainya. Sejarah Srimulat muncul sebagai kilasan-kilasan yang lembut, dengan porsi yang pas. Problem Adi yang kehilangan pekerjaan pada saat harus mempersiapkan kelahiran anak pertamanya tetap tergarap dengan baik. Lengkap dengan kehadiran ‘orang ketiga’, teman sekantor (diperankan oleh Nadila Ernesta) yang naksir Adi, yang menambah unsur ketegangan dalam film ini.

Kemunculan Fauzi Baadila yang hanya sebentar sebagai musuh Adi, mampu membuat film ini mendadak menjadi sebuah drama eksyen yang mendebarkan. Dan, menonton Srimulat tanpa kemunculan sosok drakula, tentu terasa kurang lengkap. Film ini memberi semua hal yang diharapkan ketika seseorang membayangkan Srimulat. Sampai ke masa-masa ketika Tessy selalu memperkenalkan diri dengan nama, “Tessy Wahyuni Riwayati Hartati…alah, Kabul, Kabul!” Ha ha ha.

Wiji Tukul, Aidit dan Gatoloco di Alun-alun Solo

Di sudut yang kumuh itu, dua pria sebaro baya terdengar terbata-bata mengeja huruf-huruf Jawa yang tertera di lembar-lembar lusuh di hadapan mereka.

Duduk bersimpuh di atas tikar, mereka tengah mempelajari sebuah kitab kuno yang sudah nyaris hancur. Mereka tidak sedang berada di sebuah padepokan. Ruangan itu sempit, dan merupakan bagian dari kios-kios buku dan majalah bekas di sudut alun-alun utara Keraton Surakarta.

Awal Maret 2013. Panas menyengat menjelang waktu lohor tak mempengaruhi denyut sudut itu. Empat pohon beringin raksasa menaungi dan memberikan keteduhan. Angin sesekali bertiup kencang merontokkan daun-daun yang sudah berwarna kuning. Kios tempat dua lelaki membaca kitab Jawa tadi terletak di bagian dalam. Tampak koran-koran zaman dulu yang sudah menguning dan berjamur.

Di bagian depan, pemandangan yang terlihat lebih ‘normal’: buku-buku dalam bentuknya yang masih utuh dan bagus tertata rapi. Sebagian di antaranya berbentuk fotokopian yang dijilid sendiri.

Buku-buku fotokopian itu sepertinya menjadi salah satu primadona, sebab setelah saya lihat-lihat, hampir di semua kios dan lapak memilikinya, dengan koleksi yang nyaris seragam. Serat Wirid Hidayat Jati, Tafsir Gatoloco, Aidit Menggugat Peristiwa Madiun, sejumlah judul novel berbahasa Jawa dan…kumpulan puisi Wiji Tukul!

Saya sedikit terhenyak, sampai nyaris terjengkang ke belakang. Fenomena apa ini? Dengan terheran-heran saya timang-timang dan buka-buka buku Wiji Tukul itu. Itu adalah kumpulan puisi pertamanya, Mencari Tanah Lapang, dengan pengantar dari Arief Budiman. Ketemu berapa perkara buku ini sampai ada fotokopiannya? Apa hanya karena sang penyair yang hilang dalam huru-hara reformasi 98 itu orang Solo? Sejak kapan buku kumpulan puisi menjadi ‘primadona’ lapak buku bekas, sampai harus difotokopi segala?

Perihal kitab-kitab wirid dan Gatoloco itu, saya maklum belaka. Belakangan ini memang ada gejala, semacam kerinduan pada berbagai spiritualitas dan kearifan masalalu, yang secara permukaan tercermin dari maraknya penerbitan buku-buku dari khasanah lama Jawa. Pergilah ke toko buku paling glamor di kotamu, tak sulit mendapatkan Serat Dewaruci, Kalatidha hingga Centhini. Sunan Kalijaga, Syeh Siti Djenar hingga Sabdopalon pun tak ketinggalan bertebaran di rak.

Tentu saja, yang hadir di toko buku dalam terbitan baru itu merupakan versi-versi dari saduran modern, ataupun tafsir dan pembahasannya untuk pasar pembaca generasi baru. Sedangkan, yang difotokopi dan dijajakan di lapak dan kios alun-alun Solo itu adalah versi ‘asli’, dalam bentuk tembang, dan tentu saja berbahasa Jawa. Di lapak yang terdapat dua orang tengah membaca kitab tadi, bukan tidak mungkin tersimpan versi yang ‘lebih asli’ lagi dalam huruf Jawa.

Apakah permintaan atas kitab-kitab dari masalalu itu demikian tinggi, sampai beredar versi fotokopi? Yang jelas, ketika ada usaha untuk menghadirkan kembali buku-buku itu, artinya pasarnya memang ada. Buku-buku itu sepertinya difokopi dalam jumlah banyak oleh sebuah agen, lalu didistribusikan ke setiap kios dan lapak. Uniknya, buku-buku fotokopian itu dijual murah saja, Rp 15 ribuan, seolah sekedar pengganti ongkos fotokopi dan jilid.

Media, Gender dan Identitas

(Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Outmagz dengan judul Tubuh-tubuh yang Tak Mau Patuh. Diunggah kembali di sini untuk memberi perspektif atas peran Tata Dado dalam budaya pop Indonesia)

Majalah a+ edisi April 2005 lalu tampil dengan sampul yang mengejutkan, dan barangkali tak pernah terbayangkan oleh siapapun: Nicolas Saputra dalam dandanan perempuan. Dengan tata rias yang dikerjakan oleh Gusnaldi, hasil jepretan fotografer Pinky Mirror itu memperlihatkan close up wajah Nico yang manglingi. Ia menjadi cantik dengan bibir merah, alis mata nyaris segaris dan bulu mata palsu yang mencuat lentik.

Sebagai model yang kemudian mencuat lewat film Ada Apa dengan Cinta?, Nico terbilang aktor bercitra high profil. Ia tak main sinetron, selektif memilih tawaran peran main film dan tak dirundung gosip yang aneh-aneh. Pendek kata, citranya baik, lurus. Kabar tentang kehidupan percintaannya yang sesekali muncul di lembar tabloid maupun infotainment –misalnya tentang putusnya hubungan dia dengan model Indah Kalalo- menambah satu poin positif yang penting bagi pencitraan dirinya di hadapan publik: ia laki-laki straight. Penting, karena seksualitas merupakan satu lapis identitas yang paling misterius, dan oleh karenanya menjadi salah satu hal menarik yang selalu mengundang rasa penasaran publik sejauh menyangkut sosok seorang selebritas.

Disadari atau tidak oleh pihak-pihak yang bersangkutan, majalah lifestyle kelas satu terbitan Jakarta yang mengklaim dirinya sebagai “unisex, fashion, lifestyle” itu telah melahirkan Nicolas Saputra sebagai ikon yang mengaburkan hubungan-hubungan keramat antara tubuh, gender dan identitas. Media (massa), termasuk di dalamnya produk majalah, agaknya memang telah menjadi institusi sentral bagi produksi dan sirkulasi diskursif tentang gender dan identitas. Dalam bahasa Michel Foucault, media telah memobilisasi tubuh dalam suatu bentuk tontonan dialektikal berdasarkan dorongan ganda kesenangan dan kekuasaan.

Apa yang dilakukan Majalah a+ sebenarnya bukanlah hal baru dan pertama –dalam konteks bagaimana media menciptakan, melahirkan dan membesarkan sosok-sosok ikonik yang mendekonstruksi pemahaman kita atas identitas-identitas tubuh. Sejak agak lama, kita sudah mengenal desainer Oscar Lawalata yang menerobos batasan-batasan gender dalam berbusana. Hal yang sama kemudian juga kita lihat pada Ivan Gunawan, mantan model yang menekuni dunia rancang busana, tapi belakangan lebih dikenal sebagai presenter acara-acara televisi.

***

Baru-baru ini, sosok Ivan Gunawan menyita perhatian publik lewat sensasi penampilannya. Selebritas berjenis kelamin laki-laki yang sebelumnya selalu tampil dalam gaya –dan tak jarang juga dalam dandanan dan tata rias- feminin ini tiba-tiba mengubah dirinya (kembali) dalam penampakan seorang laki-laki “sejati”. Sebagai sosok artis yang tergolong terkenal, sepak terjang Ivan tentu saja tak pernah luput dari perhatian media –dalam hal ini televisi dan terkhusus lagi tayangan-tayangan infotainment.

Perubahan drastis dan mencolok, serta tentu saja mengejutkan itu, sudah barang pasti memiliki nilai berita yang tinggi bagi berbagai jenis acara gosip artis di televisi. Tak heran bila SCTV, lewat tayangan Ada Gosip edisi Senin (19/6/2006) secara khusus menampilkan sisik-melik transformasi yang dilakukan oleh Ivan tersebut. Bagi dunia infotainment, fenomena Ivan jelas sangat penting untuk memenuhi hasrat veyorisme masyarakat kita yang cenderung ingin tahu kehidupan pribadi orang, terlebih kalangan selebriti.

Namun, di luar konteks komodifikasi industri hiburan televisi, fenomena Ivan Gunawan juga tak kalah penting karena ia telah mengkonkretkan salah satu manifesto terbesar abad ini, yakni bahwa indentitas merupakan sebuah konstruksi sosial. Salah satu pencetus manifesto kontroversial itu adalah Judith Butler yang mengajukan teori performativitas. Inti proposal Butler adalah tidak ada identitas gender di balik ekspresi gender. Melainkan, identitas itu dibentuk secara performatif, berulang-ulang hingga tercapai “identitas yang asli”.

Butler menyerang koherensi yang diharuskan antara identitas gender dan identitas seksual. Seperti telah menjadi wacana yang umum selama ini, setiap orang diharuskan memiliki satu identitas gender yang jelas, yang harus sesuai antara “dalam” (jenis kelamin) dan “luar” (gender: cara berbusana, peran, identitas). Koherensi yang diharuskan inilah yang selama ini digunakan untuk menentukan normal dan abnormalnya seseorang. Bahwa seseorang yang memiliki penis tak punya pilihan lain kecuali harus maskulin, dan orang yang bervagina otomatis harus feminin.

Keberatan semacam itu sebelumnya sudah diajukan oleh Foucault ketika mengangkat kasus tragis Herculine Barbin, seorang hermafrodit Prancis abad XIX. Ketika lahir, Barbin diidentifikasi sebagai perempuan. Namun, setelah serangkaian pengakuannya pada dokter dan pendeta, ia secara hukum diharuskan untuk mengubah seksnya menjadi laki-laki karena karakter maskulin yang dimilikinya. Tertekan oleh seksualitas dan jenis kelamin yang diharuskan itu, Barbin pun bunuh diri.

Menurut Foucault, gagasan tentang keharusan manusia untuk hanya punya satu identitas seks dan gender yang jelas –dan tidak boleh ada identitas in beetween- ini menjadi salah satu strategi yang selama ini digunakan untuk mereproduksi dan melipatgandakan wacana tentang seksualitas. Oleh karenanya, pembangkangan tubuh seperti dilakukan Ivan Gunawan menjadi penting sebagai upaya untuk menciptakan –apa yang disebut pemikir neo-Marxis Italia Antonio Gramsci- “keseimbangan kompromis”.

Memang, kalau kita merujuk Gramsci, maka akan terlihat betapa media merupakan medan pergulatan antara usaha perlawanan yang dilakukan oleh kelompok subordinat terhadap kelompok dominan dalam masyarakat. Di dalamnya akan terlihat percampuran –yang tak jarang kontrakdiktif- antara berbagai kepentingan dan nilai-nilai yang saling bersaing, yang bergerak di antara resistensi dan kompromi. Majalah a+ barangkali tidak menyangka, jika yang mereka lakukan dengan mendadani Nicolas Saputra sedemikian rupa itu bisa memberi makna simbolik resistensi bagi, misalnya, kaum homoseksual laki-laki terhadap hegemoni budaya heteroseksual dan moral-agama.

Dengan perspektif yang sama, maka kita bisa memaknai suksesnya kemunculan sosok seperti Aming, serta masih bertahannya popularitas Tessy, sebagai simbol keberhasilan budaya minoritas-subordinat merebut ruang di tengah budaya mayoritas-dominan. Televisi sebagai media yang relatif paling popular di masyarakat saat ini telah menjadi arena perebutan perhatian dari tubuh-tubuh yang tak mau patuh, membangkang dari definisi-definisi normatif gendernya dan merayakan pembongkaran identitas-identitasnya.

Teknologi komunikasi yang memungkinkan kita terhubung satu sama lain saat ini membuat hampir segala hal dalam hidup ini, termasuk bencana, menjadi tidak nyata

Teknologi komunikasi yang memungkinkan kita terhubung satu sama lain saat ini membuat hampir segala hal dalam hidup ini, termasuk bencana, menjadi tidak nyata

Lewat media sosial, orang-orang yang sebelumnya bukan siapa-siapa itu sedang belajar menghancurkan dunia di sekitarnya

Yang Klasik dan yang Kontemporer dalam Wayang Orang Jawa di Jakarta 2013

Terompet Naga, Lautan Payung, dan Kepulan Asap Kembang Api 2012/2013

10 Film Paling Berkesan 2012

1. Life of Pi
Gara-gara film ini, saya berdebat dengan beberapa teman tentang “bagus” dan “bagus banget”, “suka” dan “suka banget”.

Saya ngotot, bagus ya bagus, suka ya suka, mau diembel-embeli banget atau tidak sama saja. Tapi, saya memang terlalu defensif karena saking sukanya dengan film ini. Habis menonton film ini, saya merasa seperti robot yang dilolosi sekrup-sekrupnya. Dan, sampai berhari-hari saya tidak tahu bagaimana harus mengembalikan keutuhan saya.
 
2. Amour
Terima kasih untuk Festival Film Eropa 2012 yang telah memungkinkan publik Jakarta bisa menonton film peraih Palem Emas Cannes Film Festival tahun ini. Karya Michael Haneke ini adalah sebuah film horor tanpa hantu. Atau, hantunya adalah pasangan suami-istri jompo itu sendiri, yang meneror penonton dengan pertanyaan: Bagaimana menjadi tua bersama-sama —apakah cinta masih ada?

Selain menyuguhkan kekuatan akting yang dahsyat, ‘Amour’ menyajikan filosofi kehidupan yang ‘menyakitkan’. Cinta, kesabaran, kepedulian, pada akhirnya akan hilang, tergerus oleh waktu. ‘Amour’ adalah puisi yang menakutkan tentang berakhirnya sebuah kehidupan.

3. Denok dan Gareng
Bagi kebanyakan orang yang tumbuh besar di Jawa, terutama di kota-kota bekas kerajaan seperti Solo dan Yogyakarta, sosok-sosok yang ditampilkan dalam film dokumenter yang diputar di Chop Shots (Jakarta, 5-9 Desember) ini sebenarnya tak teramat istimewa.

Tapi, ketika itu ditampilkan kembali sebagai sebuah film, rasanya tetap ada yang asing dan baru. Menariknya, yang mencuri perhatian di film ini bukan hanya Denok dan Gareng, pasangan suami istri yang dijadikan judul, tapi juga emak-nya si Gareng, yang berhasil mengobrak-abrik cara pandang kita tentang konsep-konsep keluarga selama ini.

Ini adalah kisah tentang sebuah keluarga Jawa miskin yang egaliternya tiada banding di seluruh dunia. Biaya sekolah anak-anak yang mahal, dan berbagai persoalan hidup yang silih-berganti mereka hadapi dengan ‘kearifan’ yang mencengangkan. Karya Dwi Sujanti Nugraheni ini merupakan suara dan perspektif dari generasi paling muda saat ini tentang bagaimana sebuah keluarga mempertahankan ikatannya dan bertahan dengan cara menertawakan nasib.

4. Negeri di Bawah Kabut
Saya menyukai film karya Shalahuddin Siregar ini lebih ketimbang ‘Impian Kemarau’-nya Ravi Bharwani (salah satu film favorit saya sepanjang masa). Meskipun yang satu dokumenter dan satunya fiksi, menurut saya dua film itu menghadirkan sebuah dunia yang sama: orang-orang yang hidup di sebuah desa yang tak punya negara, tak punya pemerintahan, kecuali hanya hadir sebagai sebentuk hajatan lima tahun sekali dengan penuh janji. Setelah itu? Setelah itu orang-orang hidup kembali seperti biasa, seperti sedia kala, miskin dan sunyi, duduk melingkar di sekitar tungku, ngobrol lirih-lirih di antara desis air dalam teko yang mendidih.

5. Mata Tertutup
Rima (Eka Nusa Pertiwi) adalah seorang mahasiswa yang pintar dan gelisah. Pencariannya bermuara pada organisasi Negara Islam Indonesia (NII) yang memberinya panggung untuk mewadahi kegelisahannya itu. Rima tumbuh menjadi anggota yang berprestasi, handal dalam merekrut anggota-anggota baru, namun kemudian kecewa karena organisasi itu tak seperti yang dibayangkannya.

Pada sisi lain, penonton diberi “imbangan” cerita dari sisi seorang ibu (diperankan Jajang C Noer) yang kehilangan anaknya, yang diduga —dan belakangan memang terbukti— direkrut NII. Beiringan dengan dua sub-plot itu, penonton mendapat satu personifikasi lagi dari sosok Jabir (M Dinu Imansyah) untuk melengkapi gambaran mengenai bagaimana ideologi fundamentalisme (Islam) di Indonesia bekerja pada anak-anak muda.

Bila Rima mewakili kelas sosial menengah yang terpelajar, maka Jabir mengkonfirmasi salah satu stereotip yang berkembang selama ini bahwa kemiskinan merupakan akar dari keterjerumusan anak-anak muda dalam gerakan radikal agama. Jabir yang terpaksa meninggalkan pesantren karena sudah lama menunggak bayaran, dalam perjalanannya kembali ke kampung bertemu dengan seorang pria misterius. Pria itulah yang kemudian membawanya masuk ke sebuah kelompok radikal Islam yang biasa berjihad dengan bom.

Mungkin ini film Garin Nugroho yang paling “mudah” ditonton. Kendati sejak awal dibuat dengan tujuan untuk pendidikan dan kampanye nilai-nilai anti-fundamentalisme, film ini tak seperti film propaganda yang verbal dan kaku. Sebaliknya, film ini berhasil menjadi sebuah karya yang bagus.

6. Hello Goodbye
Meskipun Candra Aditya, penulis review film terpercaya nomer dua di Jakarta (nomer satu saya sendiri hehehe) bilang bahwa film ini adalah ‘Lost in Translation’ yang gagal, saya tetap pada penilaian semula. Bahwa ini adalah film yang indah dan mengesankan. Nggak percaya? Buktikan sendiri saja!

7. Parts of the Heart
Ada yang menilai film Paul Agusta ini sebagai omnibus, dan faktanya memang film ini kerap diputar sebagai film-film pendek yang terpisah. Ada 8 bagian yang memang bisa ditonton dari mana saja, tak harus urut. Namun, saya lebih suka menontonnya sebagai satu kesatuan.

Film ini mengikuti perjalanan hidup Peter, seorang gay di Jakarta dari umur 10 hingga 40 tahun, dengan highlight pada 8 masa yang dipilih. Dengan segala kesederhanannya, film ini bertutur dengan jernih dan jujur. Belum pernah homoseksualitas di tampilkan dalam film Indonesia senormal dan sewajar ini. 

8. Kebun Binatang (Postcard from the Zoo)
Saya tak pernah paham kenapa orang-orang memuji dan menyukai film pendek Edwin yang berjudul ‘Kara Anak Sebatang Pohon’. Bagi saya film itu ruwet. Namun, di film panjangnya ini, Edwin justru mengalir bening, dengan tatapan yang lebih santai. Saya menyukai film-film dengan tokoh-tokoh yang tak mapan, muncul dan menghilang begitu saja, seolah tanpa asal-usul dan masa depan. Film ini membawa kita pada sebuah dunia yang membuat kita mempertanyakan kembali tempat kita berada saat ini.

9. A Separation
Film ini mendapat Piala Oscar 2011, tapi baru tahun 2012 masuk dan diputar di bioskop Indonesia. Sebagaimana umumnya film Iran yang tak pernah gagal dengan kesederhanaannya,  film ini pun memikat dan memukau kita lewat drama “lambat” yang jauh dari gegap-gempita. Bermula dari sepasang suami istri yang hendak bercerai, ke drama seorang anak lelaki yang harus mengurusi ayahnya yang sakit tua, film ini dengan sabar menggiring kita ke sebuah drama moral yang superkompleks.

10. Jagal (The Act of Killing)
Sulit melukiskan film dokumenter karya Joshua Oppenheimer ini dalam kalimat-kalimat pendek. Yang jelas, hanya di film ini kita bisa menyaksikan Ketua Umum Pemuda Pancasila Yapto Suryosumarno di sela-sela golf mengomentari cewek cady yang melayaninya dengan ungkapan-ungkapan cabul nan mesum. Hanya di film ini kita bisa menyaksikan Yusuf Kalla yang waktu itu masih menjabat sebagai wakil presiden berpidato memuji-muji preman sebagai “elemen bangsa” yang diperlukan, karena katanya “berkelahi itu bukan sesuatu yang tak perlu”.

Merekonstruksi pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh PKI dari sisi para pelakunya, film ini memberi perspektif pada kita untuk membantu pertanyaan-pertanyaan yang selama ini buntu, tentang kenapa bangsa ini begitu terpuruk, bahkan gagal.

‘Habibie & Ainun’: Pilihan Cerdas atau Jalan Pintas?

Ada yang bilang, memfilmkan tokoh semultidimensi Habibie amatlah sulit. Oleh karenanya, pilihan para pembuatnya (sutradara: Faozan Rizal, skenario: Ginatri S Noer, Ifan Adriansyah Ismail, produser: Hanung Bramantyo) pada kisah cintanya dengan Ainun dinilai merupakan pilihan yang cerdas.

Faktanya, film ini memang diangkat dari buku berjudul sama yang ditulis sendiri oleh Pak Habibie. Artinya, fokus pada kisah cinta bukanlah pilihan, tetapi memang, ya, itulah materi yang ada.

Pada sisi lain, ada juga yang mengatakan, apa istimewanya ketokohan Habibie, sampai kisah cintanya difilmkan segala? Orang-orang yang berkata begitu merasa tidak punya alasan untuk menonton film ini.

Faktanya, bagaimana pun, Habibie adalah mantan presiden RI, yang di masa kepemimpinannya telah terjadi banyak hal penting yang mengubah bangsa ini. Pembebasan para tahanan poilitik, hingga jajak pendapat di Timor Timur adalah sederet “jasa” Habibie. Ironisnya, dengan semua langkah demokratis itu, Habibie tak pernah benar-benar diterima oleh kalangan mana pun. Ironis? Saya tak tahu istilah yang lebih tepat.

Dosa asal yang dipikul Habibie memang terlalu berat. Dan, film ini, kalau mau dibaca secara politis, barangkali merupakan salah satu upaya untuk meringankan beban itu. Faktanya, Habibie memang “terlibat” dalam film ini, selain sebagai supervisi isi film, juga muncul sebagai cameo di bagian akhir.

Dengan demikian, film ini pada akhirnya juga ikut memikul beban yang berat. Terberkatilah Reza Rahadian yang sempurna menghidupkan karakter Habibie. Bunga Citra Lestari yang sejak awal diragukan sebagai pemeran Ainun pun ternyata juga baik-baik saja. Alur yang mengalir tangkas, editing yang efektif, setting masalalu yang meyakinkan, dan cerita yang “manis” membuat film ini memberikan apapun yang ingin dilihat penonton ketika datang ke bioskop.

Sehingga, tak ada yang mempersoalkan misalnya, benarkah Habibie dulu waktu menjabat sebagai Menristek selama kepemimpinan Presiden Soeharto begitu heroik —seperti diperlihatkan dalam adegan ketika ia menolak suap sekoper uang? Faktanya, sekali lagi, film ini diangkat dari buku yang ditulis oleh Pak Habibie sendiri, sehingga para penulis skenario yang kemudian mengolahnya tak mungkin melakukan tafsir apa-apa. Habibie yang tertuang dalam layar kaca akhirnya adalah Habibie yang sudah terberi, sebuah “barang jadi”.

Peristiwa-peristiwa penting dalam perjalanan karier politik Habibie mau tak mau “terbawa” seiring dengan kisah cintanya dengan Ainun. Namun, tetap, sumber ketegangan dan keharuan utama digali dari arena relasi asmara, terutama pada saat-saat menjelang meninggalnya Ainun. Kalau berhasil membuat penonton menitikkan airmata, setidaknya berkaca-kaca adalah ukuran keberhasilan film ini, maka sampai di sini kelar sudah perkara.

Namun, kembali, kalau kita percaya bahwa Habibie memang tokoh semultidimensi itu, maka kisah cinta rasanya terlalu sempit untuk mewadahinya, semacam jalan pintas yang, sorry to say, agak “curang”. Faktanya….